Senin, 25 Februari 2019

Kus-kus kerdil yang indemik di Sulawesi Tengah menkonsumsi kopi, menjadikannya kopi Toratima. Photo by Arul Karsa Institute Setelah du...

Kopi Toratima, Penantang Kopi Luwak dari Sulawesi

Kus-kus kerdil yang indemik di Sulawesi Tengah menkonsumsi kopi, menjadikannya kopi Toratima. Photo by Arul Karsa Institute
Setelah dunia dimanjakan oleh rasa kopi luwak, kini ditemukan jenis kopi yang serupa tapi tak sama dan tidak kalah nikmat dan eksotik. Namanya kopi Toratima,  yang memang belum banyak diketahui oleh radar wisatawan.

Kopi ini menjadi istimewa karena hanya ada di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, tepatnya di perbukitan, dalam kawasan beberapa desa di Kecamatan Pipikoro yang hanya dapat dijangkau dengan kendaraan bermotor atau ojek.

Apa bedanya dengan Kopi luwak yang sudah termasyur itu? Kopi Toratima dihasilkan dari fermentasi yang dilakukan oleh kelelawar, tikus, atau tupai. Hewan-hewan tadi adalah fermentator yang memakan biji kopi yang sudah matang, melumat dan menelan kulit kopi yang rasanya manis.  Setelah itu biji kopi yang sudah terkupas bersih seperti beras-kopi dan berwarna putih dimuntahkan lagi ke tanah. Nah, biji kopi inilah yang dipungut, dibersihkan dan tinggal diplah.  Cuping hidung anda takan berhenti begerak, setelah mencum aromanya yang wangi saat disangrai dan ditumbuk. Soal rasa, jangan ditanya, ia 100 kali lebih mantap dibanding kopi yang dipetik biasa.

Kopi Toratima mulai diperkenalkan secara luas oleh Karsa Institute, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Palu, bulan Maret 2016 lalu.  Festival ini dihadiri kepala daerah Sigi, jajaran petinggi satuan kerja perangkat daerah (SKPD), DPRD Kabupaten dan Provinsi dan para anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Tengah, jurnalis, backpacker, cross biker dan tentu saja para pecinta kopi dari beragai daerah di Indonesia. Tidak kurang dari 3500 pengunjung hadir dan boleh mencicipi kopi Toratima dari 19 desa yang mengikuti acara festival.

Menurut Bupati Sigi Mohamad Irwan, secara statistik ekonomi Kabupaten Sigi tahun 2015, jumlah produksi kopi Pipikoro belum terlalu menggembirakan, yaitu  hanya 152 ton per tahun  yang berasal dari 639 Hektare kebun kopi warga disana. Namun dari tingkat produktivitas kata dia, hasil dari perkebunan kopi di Pipikoro merupakan yang tertinggi di Kabupaten Sigi.

Masih terbatasnya akses jalan ke desa-desa tersebut menghambat dikenalnya kopi ini di daerah lain. Kunjungan iccofeereview ke Desa Porolea, Lawed an Peana  beberapa waktu lalu memerlukan waktu sekitar 7 jam perjalanan dari Kota Palu untuk mencapai desa ini.  Dari kota Palu anda bisa naik kendaraan roda 4 menuju ibu Kota Kecamatan Gimpu. Nah dari Gimpu, harus naik ojek, melintasi gunung dan ngarai yang terjal selama 4 jam lagi untuk tiba di lokasi kebun kopi penghasil kopi Toratima yang berada di ketinggian antara 500-1200 mdpl.

Dahulu kopi Toratima  tidak diperjualbelikan bebas,  melainkan hanya dikonsumsi sendiri oleh petani dan disuguhkan pada tetamu  terhormat dan disajika pada saat upacara adat  masyarakat Kulawi Uma dan Topo Uma.

Tapi sayang disayang, karena sampai saat ini produksi kopi Toratima masih sangat tertabas dan musiman, namun untuk yang sudah tak sabar mencicipinya, kopi ini sudah bisa anda nikmati di Caffe Toratima di Airport Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie, Sulawesi Tengah atau pesan di sini.

Accept Payment

Accept Payment